Kompensasi Karyawan

Kompensasi Karyawan Untuk Mengurangi Tingkat Perputaran

Posted by

Pernah mendengar kisah Kevin Carter, seorang jurnalis Afrika Selatan yang terkenal karena foto-fotonya yang mendunia tentang tragedi di Benua Hitam? Setiap hari, fotografer ini memotret kebrutalan, penyiksaan, dan kekejaman yang menyebabkan orang mati karena politik apartheid. Pada puncaknya, pada tahun 1994, Carter dianugerahi Penghargaan Pulitzer untuk fotonya tentang seorang bocah Sudan yang kelaparan diikuti oleh burung pemakan bangkai, yang diterbitkan di The New York Times pada tahun 1993. Ironisnya, penghargaan jurnalisme paling bergengsi di dunia itu tidak membuatnya senang.

Karyanya menuai kontroversi. Banyak orang mencemooh dan menyarankan Carter seharusnya membantu bocah itu, bukan memotretnya. Namun tak sedikit yang bersyukur karena foto tersebut telah membuka mata dunia tentang kelaparan mengerikan akibat konflik di Sudan. Carter memilih untuk mengakhiri hidupnya di usia 33 tahun. Diketahui dari catatan yang ditinggalkannya, ia diduga menderita depresi akibat akumulasi stres dan rasa bersalah selama bertahun-tahun mendokumentasikan peristiwa paling keji dalam sejarah Afrika.

Stres berkepanjangan akibat lingkungan kerja yang buruk bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Ini mungkin terdengar seperti hiperbola, tetapi cerita serupa dapat ditemukan di banyak pekerjaan di mana stres kerja tinggi.

Stres kerja adalah keadaan tertekan, baik fisik maupun psikis, pada individu yang menghadapi tuntutan pekerjaan di luar kemampuannya atau kondisi lingkungan kerja yang buruk/tidak menyenangkan. Stres kerja dapat dikenali dari tanda-tanda berikut ini:

Gejala psikologis, termasuk kecemasan, ketegangan, kebingungan, lekas marah, frustrasi, kemarahan, kebencian, sensitivitas, hiper-reaktivitas, penarikan, depresi, komunikasi yang tidak efektif, perasaan isolasi dan isolasi, kebosanan, ketidakpuasan, kelelahan mental, penurunan konsentrasi, penurunan kreativitas, dan hilangnya rasa percaya diri.

Gejala psikotik, ditandai dengan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, kecenderungan penyakit kardiovaskular, peningkatan hormon stres dan sekresi, gangguan lambung, kelelahan fisik, masalah pernapasan, sakit kepala, sakit punggung, ketegangan otot, dan gangguan tidur.

Gejala perilaku, termasuk menunda/menghindari pekerjaan, sering absen, penurunan kinerja dan produktivitas, peningkatan konsumsi alkohol dan obat-obatan, sabotase pekerjaan, makan tidak normal, menyukai perilaku berisiko tinggi, menyukai agresivitas dan kejahatan, dan memburuknya hubungan interpersonal.

Tidak hanya menurunkan kualitas individu, stres kerja juga berdampak negatif bagi bisnis dan perusahaan, antara lain:

1. Mengganggu Kegiatan Kerja Sama Tim

Stres kerja menyebabkan komunikasi yang tidak efektif, memecah fokus, memicu ketidakpercayaan rekan kerja, dan membuat kolaborasi menjadi berantakan. Analoginya sama dengan sepak bola. Jika sebuah tim ditekan oleh serangan lawan sepanjang babak, peluang kebobolan gol semakin besar. Sebab, situasi tekanan yang terus-menerus akan merusak konsentrasi tim dan merusak organisasi pertahanan.

2. Produktivitas Lebih Rendah

Tekanan kerja menyebabkan kelelahan mental dan fisik, serta menurunkan kreativitas dan kualitas kerja karyawan. Tingkat ketidakhadiran kerja akan meningkat, baik karena keluhan kesehatan maupun ketidakmampuan menghadapi tekanan berat di kantor. Hal seperti ini tentunya akan menyebabkan produktivitas kerja yang rendah.

3. Meningkatkan Perputaran Karyawan

Kecenderungan depresi dan menarik diri juga merupakan risiko pengunduran diri dari perusahaan. Karyawan yang menganggap kantor sebagai ‘neraka’ akan kehilangan semangat, tidak merasa menjadi bagian dari tim, dan pada gilirannya akan meninggalkan pekerjaannya untuk mencari perusahaan lain. Inilah sebabnya mengapa stres kerja dapat meningkatkan turnover.

4. Membebani Biaya Perusahaan

Turnover yang tinggi jelas membuat anggaran perusahaan untuk merekrut karyawan baru membengkak. Belum lagi jika perusahaan kehilangan karyawan terbaik, mencari penggantinya tidak mudah, butuh proses yang lama, dan biaya yang mahal.

Karena dampak buruk tersebut, perusahaan harus memperhatikan kondisi mental karyawan, terutama mereka yang memiliki tekanan kerja harian yang tinggi, jika tidak ingin meningkatkan turnover.

Perusahaan perlu memahami bahwa keluhan karyawan tentang pekerjaan yang tidak ditangani akan berkembang menjadi cerita negatif yang menyebar di kalangan karyawan, sehingga akan menciptakan lingkungan yang beracun di kantor. Sementara itu, karakter pegawai Indonesia pada umumnya masih enggan untuk menyampaikan keluhannya kepada atasan karena dapat menimbulkan persepsi lain.

Solusinya, perusahaan dapat menambahkan layanan konseling profesional sebagai manfaat paket kompensasi karyawan.